8 Postingan Penuh Inspirasi Melalui Aplikasi WhatsApp

Uncategorized
  1. MENAHAN MARAH – Alasan Kenapa Orang Yang Bisa Menahan Marah Adalah Orang Yang Kuat

Saudaraku, seorang yang mampu menahan marah adalah seorang yang kuat. Ia bisa mencegah godaan setan pada dirinya. Ia justru bisa membuat setan marah dan kecewa bila bisa menahan amarahnya. Makanya seorang yang dapat meredam amarah ialah orang yang benar-benar kuat.

Orang yang gagah perkasa belum tentu bisa menahan amarah. Seorang ahli bela diri sangat jarang yang bisa mengontrol diri saat marah. Yang ada adalah bagaimana bisa melampiaskan amarah. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memuji seorang yang dapat menahan amarah sebagai seorang yang kuat. Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang yang kuat itu kuat bergulat, (tetapi) sesungguhnya orang yang kuat itu ialah orang yang dapat (mampu) menguasai nafsunya tatkala marah“

[H.R. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah]

Saudaraku, sebagian orang berkilah, bukannya seorang akan menjadi lega dan tenang saat sudah bisa menyalurkan marahnya? Dan menahan marah justru akan menyebabkan penyakit pada tubuh?

Kita jawab bahwa leganya seseorang dari kondisi jiwanya saat marah, bukanlah disebabkan ia bisa melampiaskan amarahnya. Namun karena luapan emosi yang telah mereda. Bukan karena seorang melampiaskannya. Justru yang banyak kita jumpai adalah penyesalan yang datang dari sebab menyalurkan amarah yang kadung menguasainya. Oleh karenanya, sungguh termasuk sikap yang terpuji bila seseorang bisa menahan diri dari marahnya. Ia bisa memadamkan api kemarahannya. Allah ﷻ pun memuji seorang yang mampu menahan marah:

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Q.S. Ali Imran: 133-134]

Nah ‘kan? seorang yang dapat menahan amarah itulah orang yang terpuji di sisi Allah.

Dikirim oleh: Baroroh Barit, 10 Maret 2018

 

  1. HUSNUDZON – Sangkaan baik kepada Allah, pintu kebaikan yang berharga

Saudaraku, ber” husnudzon” kepada Allah adalah salah satu sifat orang yang beriman. Jika sifat ini tidak dimiliki oleh seorang muslim maka tidak akan sempurna keimanannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abdullah Ibnu Mas’ud rau pernah mengatakan, “tidak ada kebaikan yang lebih berharga bagi seorang mukmin kecuali berbaik sangka kepada Allah. Demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah kecuali Dia pasti akan memberikan segala prasangka tersebut. Itu karena segala kebaikan ada ditangan-Nya.”

Bagus bukan kesudahan seorang yang ber” husnudzon” kepada Allah? Tentu kita akan berusaha untuk menjadi seorang muslim yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya. Cobalah kita belajar berbaik sangka kepada-Nya, bahwa Ia akan senantiasa menghendaki kebaikan buat kita, kita yakin akan pertolongan-Nya kepada kita, akan membimbing, memelihara, memberi rizki dan berbagai sangkaan baik lainnya.

Imam An Nawawi dalam kitab syarah Shahih Muslim berkata tentang makna berbaik sangka kepada Allah. Beliau mengatakan:

“makna husnudzon kepada Allah adalah yakin bahwa Allah akan merahmatinya dan mengampuninya“ Kemudian beliau mengatakan pula :

“Al-Qadhi berkata: mengampuninya jika seorang hamba meminta ampun, menerimanya jika seorang hamba bertaubat, mengabulkannya jika seorang hamba memohon, dan mencukupinya jika seorang hamba meminta”

Saudaraku, seluruh prasangka baik seorang hamba kepada Allah ﷻ hakekatnya adalah salah satu hasil dari keimanan hamba kepada Rabnya. Bagaimana tidak, Berhusnudzon merupakan salah satu ibadah hati yang agung, dan merupakan bagian dari konsekuensi tauhid yang paling dalam. Oleh karenanya Rasulullah ﷺ memberikan wejangan kepada umatnya untuk senantiasa berprasangka baik kepada Allah ﷻ walau sampai di akhir masa hidupnya. Tiga hari sebelum kematian Rasulullah ﷺ, beliau menasehati

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah“ [H.R. Muslim]

Nah oleh karena itu, kita tentu berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa berbaik sangka kepada-Nya. Dengan menata hati kita, membiasakannya dan tentu dengan terus berdoa minta pertolongan kepada Allah ﷻ agar Ia membimbing kita dalam merealisasikannya. Aamiin..

Dikirim Oleh: Baroroh Barit, 11 Maret 2018

 

  1. TAWAKKAL – Bersandar Hanya Kepada Allah SWT

Semua orang akan kembali kepada Allah SWT setelah matinya. Tapi berbahagiah dia yang telah melangkah menuju Allah SWT sepanjang hidupnya.” (Sayyid Quthb).

Hidup adalah perjalanan yang digariskan memiliki dua rasa: manis dan getir, lapang dan sesak, suka dan duka, nikmat dan musibah; serta sabar dan syukur. Tak seorangpun bisa lepas dari dua rasa itu, pun juga mereka yang dicintai-Nya. Makin agung nikmat, besar pula musibahnya. Imanpun tak menjamin kita selalu berlimpah dan tertawa. Tapi ia menyediakan lembut elusan-Nya dalam apapun dera yang menimpa. Maka sabar dan syukur adalah wahana yang akan membawa hamba, menselancari kehidupan nan berrasa dua itu dengan iman di dalam dada.

Oleh hadirnya sabar dan syukur itulah, Nabi nyatakan betapa menakjubkan hidup dan ihwal orang beriman. Semua urusannya adalah kebaikan. Sebab atas musibah dia bersabar, dan sabar itu membuatnya meraih pahala tanpa hingga, dicintai-Nya, dan dibersamai Allah _Subhanahu Wata’ala_ di segala rasa. Sebab dalam karunia dia bersyukur; maka syukur itu membuat sang nikmat melekat, kian berganda berlipat, menenggelamkannya dalam rahmat.

Tapi hakikat sabar dan syukur sebenarnya satu saja; keduanya ungkapan iman tuk menyambut penuh ridha segala kurnia-Nya, apapun jua bentuknya. Maka sabar adalah juga sebentuk syukur; dalam menyambut kurnia nikmat-Nya yang berbentuk lara, duka, nestapa, dan musibah yang niscaya. Maka syukur adalah sebentuk sabar dalam menyambut kurnia musibah-Nya yang berupa kesenangan, kelapangan, kelimpahan, sesuka nan melena. Maka tak ada kata henti untuk bersabar dan bersyukur; sebab ia dua tali yang hubungkan kita dengan-Nya; hingga hidup terasa surga sebelum surga.

“Jika sabar dan syukur itu dua kendaraan,” ujar Umar, “Aku tak peduli naik yang mana.” Keduanya berlintasan ridha-Nya; berjurusan surga.

Dikirim Oleh: Baroroh Barit, 12 Maret 2018

 

  1. BUGHATS (BURUNG GAGAK) – Sebuah Kisah Inspiratif

Oleh: Ust. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Hafidzahullah

Apakah “bughats” itu? Dan bagaimana kisahnya? “Bughats” adalah anak burung gagak yang baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut “bughats”. Ketika sudah besar dia menjadi gagak (ghurab). Apa perbedaan antara bughats dan ghurab?

Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih. Saat induknya menyaksikanya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja. Anak burung kecil malang yang baru menetas dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.

Lalu bagaimana ia makan dan minum?

Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya. Allah menciptakan aroma tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak tersebut sehingga mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak dan ia pun memakannya. Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh.

Ketika itu, barulah gagak mengetahui itu anaknya dan ia pun mau memberinya makan sehingga tumbuh dewasa untuk bisa terbang mencari makan sendiri. Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya. Dia-lah Allah, Ar Razaq, Yg Maha Penjamin Rezeki. Maka kita dianjurkan untuk membaca do’a:

*ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺭﺯُﻗﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮﺯُﻕُ ﺍﻟﺒُﻐَﺎﺙ*ََ  

Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats.

Rezeki akan mendatangi kita di mana pun kita berada, selama kita menjaga ketakwaan kepada Allah.  Maka, cukupkanlah diri kita dengan rezeki yg halal dariNya, dan menjauhi segala rezeki yg haram.

للّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”  Semoga bermanfaat…

Dikirim Oleh: Baroroh Barit, 13 Maret 2018

 

  1. CERDASNYA ORANG BERIMAN – Sebuah Pilihan Hidup

Orang beriman mampu mengolah hidupnya yg sesaat & yg sekejap untuk hidup yg panjang.  Hidup bukan untuk hidup….., tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati….., tapi mati itulah untuk hidup yakni hidup yg abadi. Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi justru rindukan mati…… Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT…….

Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup…… tapi mati adalah awal cerita sebenarnya……, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan. Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

  1. Tahajjud karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.
  2. Membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman….dan penghayatan.
  3. Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu subuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, *bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah SWT* yg dipanggil orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah…rumah ALLOH SWT.
  4. Jaga Shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha. Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yg suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yg bersedekah setiap hari.
  5. Jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yg berwudhu. Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang yg selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, “ampuni dosanya. ..dan sayangi dia Ya Allah”
  6. Amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yg terjadi karena dosa yg kita lakukan…. akan dijauhkan oleh Allah.
  7. Baca juga do’a2 ini:
    1. Mintalah diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah: Allahumma inni as’aluka husnal khotimah. Artinya : “Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah “
    2. Mintalah agar kita diberikan kesempatan Taubat sebelum wafat: Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut. Artinya: “Ya Allah berilah aku rezeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat “
    3. Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas Agamanya: Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinika. Artinya: “Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU”

Pesan Moral

Perbanyak dzikir agar lebih dekat dg Allah swt: “Subhanallah, Walhamdulillah WalailaHa ilallah Allahu-Akbar wa la haula wala quwata illa billahil aliyil adzim”

Dikirim Oleh: Baroroh Barid, 14 Maret 2018

 

  1. TOLONG BAWA AKU KE SURGA – Sebuah Kisah Persahabatan yang Kekal Abadi

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen Hafidzahullah

Ketika mengunjungi seorang teman yang sedang kritis sakitnya, dia menggenggam erat tanganku, lalu menarik ke mukanya, dan membisikkan sesuatu. Dalam airmata berlinang dan ucapan yang ter-bata² dia berkata, *”Bila kamu tidak melihat aku di surga, tolong tanya kepada Allah di mana aku, tolonglah aku ketika itu”. Dia langsung terisak menangis, lalu aku memeluknya dan meletakkan mukaku di bahunya. Aku pun berbisik, “Insyaa Allah, insyaa Allah, aku juga mohon kepadamu jika kamu juga tidak melihatku di surga.” Kami pun menangis bersama, entah berapa lama.

Ketika saya meninggalkan Rumah Sakit, saya terkenang akan pesan beliau. Sebenarnya pesan itu pernah disampaikan oleh seorang ulama besar, Ibnu Jauzi, yang berkata pada sahabatnya sambil menangis: “Jika kamu tidak menemui aku di surga bersama kamu, maka tolonglah tanya kepada Allah tentang aku: ‘Wahai Rabb kami, si fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di surga.”

Ibnu Jauzi berpesan begitu bersandar pada sebuah hadits: “Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka mereka pun bertanya kepada Allah: ‘Ya Rabb! kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami…'”Maka Allah berfirman, “Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman, walau hanya sebesar zarrah.”(Ibnu Mubarak dalam kitab Az Zuhd).

Wahai sahabat-sahabat ku. Di dalam bersahabat, pilih lah mereka yang bisa membantu kita, bukan hanya ikatan di dunia, tetapi juga hingga akhirat. Carilah sahabat-sahabat yang senantiasa berbuat amal sholeh, yang shalat berjamaah, berpuasa dan sentiasa berpesan agar meningkatkan keimanan, serta berjuang untuk menegakkan agama Islam. Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu, mengajak berbuat kebaikan, bersama untuk kerja kebajikan, serta selalu berpesan dengan kebenaran.

Teman yang dicari karena urusan niaga, pekerjaan, atau teman nonton bola, teman memancing, teman bershopping, teman FB untuk bercerita hal politik, teman whatsapp untuk menceritakan hal dunia, akan berpisah pada garis kematian dan masing² hanya akan membawa diri sendiri. Tetapi teman yang bertakwa, akan mencari kita untuk bersama ke surga. Simaklah diri, apakah ada teman yang seperti ini dalam kehidupan kita, atau mungkin yang ada lebih buruk dari kita.

Ayo… berubah sekarang, kurangi waktu dengan teman yang hanya condong pada dunia, carilah teman yang membawa kita bersama ke surga, karena kita tidak bisa mengharapkan pahala ibadah kita saja untuk masuk surganya Allah Azza wa jalla. Perbanyak lah ikhtiar, semoga satu darinya akan tersangkut, dan membawa kita ke pintu surga. Al-Hasan Al-Bashri berkata:

“Perbanyak lah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat.” Pejamkan mata, berfikir lah Siapa kiranya di antara sahabat-sahabat kita yang akan mencari dan mengajak kita bersama-sama ke surga?? Jika belum ada, mulai lah hari ini mencari teman ke surga sebagai suatu misi pribadi… Menuju Jannah. Baarakallahu fiikum.

Dikirim Oleh: Adi Waluyo, 16 Maret 2018

 

  1. REAKSI vs RESPONS

CEO Google, Sundar Pichai mulai banyak dikenal orang setelah menjabat pimpinan tertinggi raksasa perusahaan Google. Pichai terlahir di Tamil Nadu, India pada tahun 1972. Pichai dikenal oleh karyawan Google sebagai seseorang yang selalu berhasil merealisasikan rencana menjadi kenyataan. Beberapa proyek dia yang sukses yakni browser Chrome dan Android. Sundar Pichai memang dikenal sebagai orang yang ramah, cerdas, dan pekerja keras.

Ada sebuah kisah inspiratif dari pidato oleh Sundar Pichai kepada anak buahnya. Ia berpidato tentang kecoa. Kisah inspiratif dibalik kecoa yang menjijikkan.

Di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dari suatu tempat dan mendarat di seorang wanita. Dia mulai berteriak ketakutan. Dengan wajah yang panik dan suara gemetar, dia mulai melompat, dengan kedua tangannya berusaha keras untuk menyingkirkan kecoa tersebut. Reaksinya menular, karena semua orang di kelompoknya juga menjadi panik. Wanita itu akhirnya berhasil mendorong kecoa tersebut pergi tapi … kecoa itu mendarat di pundak wanita lain dalam kelompok. Sekarang, giliran wanita lain dalam kelompok itu untuk melanjutkan drama.

Seorang pelayan wanita bergegas ke depan untuk menyelamatkan mereka. Dalam sesi saling lempar tersebut, kecoa berikutnya jatuh pada pelayan wanita. Pelayan wanita berdiri kokoh, menenangkan diri dan mengamati perilaku kecoa di kemejanya. Ketika dia cukup percaya diri, ia meraih kecoa itu dengan jari-jarinya dan melemparkan nya keluar dari restoran.

Menyeruput kopi dan menonton hiburan itu, antena pikiran saya mengambil beberapa pemikiran dan mulai bertanya-tanya, apakah kecoa yang bertanggung jawab untuk perilaku heboh mereka??? Jika demikian, maka mengapa pelayan wanita tidak terganggu??? Dia menangani peristiwa tersebut dengan mendekati sempurna, tanpa kekacauan apapun. So, para hadirin… CEO dari India ini kemudian bertanya: “Lalu apa yang bisa saya dapat dari kejadian tadi???” Ia melanjutkan pidatonya. Dari tempat saya duduk, saya berpikir, Kenapa 2 wanita karir itu panik, sementara wanita pelayan itu bisa dengan tenang mengusir kecoa? Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan. Ketidakmampuan kedua wanita karir dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.

Kecoa memang menjijikkan, Tapi ia akan tetap seperti itu selamanya. Tak bisa kau ubah kecoa menjadi lucu dan menggemaskan. Begitupun juga dengan masalah. Macet di jalanan, atau istri yang cerewet, teman yang berkhianat, bos yang sok kuasa, bawahan yang tidak penurut, target yang besar, deadline yang ketat, customer yang demanding, tetangga yang mengganggu, dsb. Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah menyenangkan. Tapi bukan itu yang membuat semuanya kacau. Ketidakmampuan kita untuk menghadapi yang membuatnya demikian.”

Yang mengganggu wanita itu bukanlah kecoa, tetapi ketidakmampuan wanita itu untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh kecoa tersebut. Di situ saya menyadari bahwa, bukanlah teriakan ayah saya atau atasan saya atau istri saya yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh teriakan merekalah yang mengganggu. Reaksi saya terhadap masalah itulah yang sebenarnya lebih menciptakan kekacauan dalam hidup saya, melebihi dari masalah itu sendiri.

Apa hikmah dibalik kisah inspiratif dari pidato ini? Para wanita bereaksi, sedangkan pelayan itu merespon. Reaksi selalu naluriah sedangkan respon selalu dipikirkan baik-baik. Sebuah cara yang indah untuk memahami HIDUP. Orang yang BAHAGIA bukan karena semuanya berjalan dengan benar dalam kehidupannya. Dia BAHAGIA karena sikapnya dalam menanggapi segala sesuatu di kehidupannya dgn benar!!! Itulah kira-kira hikmah yang dapat diambil dari sebuah kisah inspiratif dari pidato CEO Google, Sundar Pichai.

“Masalah adalah sebuah masalah. RESPONSE kita lah yg akan menentukan bagaimana akhir dari sebuah masalah”. Salam Delima Sukses & Bahagia Selalu.

Dikirim Oleh: Azka Subchan Aminurridho, 17 Maret 2018

 

  1. NAFSU TERSEMBUNYI (شَهْوَةٌ خَفِيَّةٌ) – Riya atas Amal Shalih

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah penuh makna. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama (Tabi’in) abad ke-3 Hijriyah dari kota Bashrah, Irak. Beliau bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami. Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku. Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: “Berikan makanan ini kepada keluargamu.”

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon, “Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah ﷻ Merahmati Tuan.” Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrawi, seolah-olah syurga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.

Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. “Ambillah, beri dia makan”, kataku pada si ibu. Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu. Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus bergelayutan dipikiranku. Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. Dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.

“Hei, Abu Muhammad…! Kenapa kau duduk-duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?”, tanyanya.

“Subhanallah…!”, jawabku kaget. “Dari mana datangnya?”

“Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta,” ujarnya.

“Terus?”, tanyaku keheranan.

“Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashrah ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melejit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan-lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan.

Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu. Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”

Dengan perubahan drastis nasib hidupnya ini, Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya, “Kalimat puji dan syukur kepada Allah berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukur. Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup.

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal shalih. Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang. Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal shalihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah ﷻ dalam daftar orang orang shalih.

Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat. Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain. Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya. Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran kota Bashrah, isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang menghinakan.

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal. Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu sisi timbangan, sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku. Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.

Namun alangkah ruginya aku. Ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya’, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu-nafsu itu. Aku putus asa. Aku yakin aku akan binasa. Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.

Tiba-tiba aku mendengar suara, أَلَمْ يَبْقَ لَهُ شَيْءٌ ؟؟  “Tidak adakah kebaikan yang tersisa untuknya?”

Lalu ada yang menjawab, بَقِيَ هَذَا !! “Tinggal ini yang masih tersisa”. Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa? Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.

Habis sudah harapanku. Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi-jadinya. Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas = Rp 250 juta), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar-benar tertipu habis-habisan oleh perbuatanku sendiri. Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai-sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekanku. Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku.

Aku melihat ternyata airmata wanita miskin yang menangis setelah menerima roti itu, ketika aku lebih mengutamakan dirinya dan anaknya dibanding keluargaku sendiri. Dan deraian airmatanya pun diletakkan di dalam timbangan. Airmata itu tiba-tiba memancar seperti ombak lautan, lalu membesar dan membesar. Sementara piring kebajikanku menjadi unggul dan terus unggul, hingga aku mendengar suara yang mengatakan, قَدْ نَجَا  “Sungguh dia telah selamat”. Aku pun berteriak dengan keras hingga aku terbangun dari tidurku. Wallahu A’lam.

👉Kisah ini disebutkan dalam kitab Wahyul Qalam karangan Musthafa Shadieq Ar-Rafi’i jilid 2 halaman 153-160.

Dikirim Oleh: Ida Ahmad Rifai, 20 Maret 2018

 

Related:

8 Kisah Inspiratif, 8 Postingan Penuh Inspirasi, 8 Postingan melalui Aplikasi WhatsApp, Menahan Amarah, Husnudzon, Prasangka Baik Pada Allah swt, Tawakkal dan berserah diri pada Allah swt, Kisah Burung Gagak, Kisah Bughat, Cerdasnya Orang Beriman, Bawa Aku ke Surga, Reaksi dan Respon, Nafsu Tersembunyi,

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *