Budidaya Tanaman Seraiwangi – Penyakit Bercak Daun dan Pengendaliannya

Komoditas

Tanaman Seraiwangi (Andropogon nardus L.; Cymbopogon nardus L) merupakan salah satu jenis tanaman minyak atsiri, yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Citronella Oil. Minyak seraiwangi Indonesia dipasaran dunia terkenal dengan nama “Citronella Oil of Java”. Minyak ini disuling dari daun seraiwangi, mengandung geraniol, sitronelal, borneol, limorem, kempen, dipenten, geranil, asetat, metil eugenol, farresol, dll. Dua senyawa penting yang menjadi standar mutu minyak seraiwangi adalah sitronellal dan geraniol yang merupakan bahan dasar pembuatan ester untuk parfum dan kosmetik. Sebagian besar produk minyak serai wangi diekspor untuk dipergunakan dalam industri sabun, parfum, kosmetik, antiseptik, aromaterapi, pengusir serangga,  karbol, dan bahan aktif pestisida nabati.

Gambar 1. Perkembangan Harga Minyak Seraiwangi di Pasar

Pada saat ini minat petani untuk pengembangan tanaman serai wangi semakin besar selaras dengan meningkatnya permintaan, dan harga minyak seraiwangi yang cukup baik. Harga seraiwangi sedikit berfluktuatif, dan pada akhir 2018 pernah mencapai harga terbaik antara Rp 250.000 – 350.000 per kg. Namun, di awal 2019 harga minyak seraiwangi diantara Rp 160.000-250.000,- tergantung dari mutu minyaknya. Berdasarkan analisis usaha tani dengan harga Rp.150.000-200.000,- per kg minyak, budidaya seraiwangi masih menarik dan menguntungkan. Hal ini juga disebabkan karena budidaya seraiwangi yang relative mudah, dan dapat di panen beberapa kali sampai berumur 3-5 tahun dalam sekali tanam. Pengembangan tanaman secara luas dalam satu kawasan, khususnya budidaya secara  monokultur seringkali menimbulkan masalah yaitu adanya ledakan serangan hama dan penyakit. Hal ini disebabkan karena hilangnya inang (host) alternative lainnya, atau tanaman yang dikembang menjadi lebih tersedia sebagai inang tunggal.

Patogen Penyebab Penyakit dan Gejala Serangan

Pengamatan dibeberapa kebun seraiwangi di Lembang, Subang, Sukabumi, Bogor, Cianjur (Jawa Barat), Bengkulu, Solok (Sumbar) dan Merauke, ditemukan serangan dari ringan sampai berat, dengan gejala bercak coklat, baik di tengah maupun di tepi daun (Gambar 2). Gejala penyakit yang ditemukan pada setiap kebun bervariasi, biasanya kebun seraiwangi pada dataran rendah lebih berat serangannya di bandingkan bila ditanam di dataran yang lebih tinggi. Untuk dapat melakukan pengendalian penyakit ini maka perlu diketahui secara pasti patogen penyebab penyakit.

Hasil isolasi pengamatan jamur yang didapatkan dari beberapa sampel (Bogor, Sukabumi, dan Cianjur)  secara mikroskopis ditemukan jamur Curvularia sp. Jamur ini miselium berwarna coklat sampai gelap/hitam, dan  konidia terlihat setelah berumur 3-4 minggu, memiliki  3-5 sel (sekat) namun umumnya 4, berukuran panjang 30-60 x 20-48 mm, dan lebar 17,5-32,5 mm. Hasil inokulasi pada tiga varietas seraiwangi (seraiwangi1, Sitrona Agribun 1 dan Sitrona Agribun 2) menunjukkan bahwa jamur Curvularia sp., dapat menginfeksi 3 varietas seraiwangi, dan gejala bercak daun muncul 10 hari setelah inokulasi. Hasil reisolasi dari daun yang menunjukkan  gejala bercak,yang ditimbulkan  dari hasil inokulasi buatan diperoleh jamur yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa jamur Curvularia sp., merupakan penyebab bercak daun pada seraiwangi.

Gambar 2. Gejala Penyakit Bercak Daun Pada Tanaman Seraiwangi
Gambar 3. Miselium dan Konidia Jamur Curvularia sp penyebab penyakit Bercak daun pada Seraiwangi

Pengamatan serangan penyakit pada 4 kebun di Merauke menunjukkan bahwa semua varietas/klon seraiwangi terserang penyakit bercak daun (Gambar 4). Serangan penyakit bercak daun pada seraiwangi berumur 3 bulan menunjukkan gejala yang bervariasi. Varietas Sitrona Agribun 1 lebih tahan terhadap penyakit bercak daun di bandingkan dengan varietas/klon lainnya, kemudian diikuti G1 (Seraiwangi1), G3, G2 dan Sitronoa Agribun 2. Hal ini menunjukkan bahwa semua varietas/klon seraiwangi dapat diserang penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Curvularia sp. untuk hal tersebut diperlukan upaya pengendalian penyakit tersebut.

Gambar 4. Intensitas Serangan Penyakit Bercak Daun Pada Beberapa Varietas / Klon Seraiwangi

Pengendalian Penyakit

Pengendalian penyakit dapat dilakukan secara terpadu baik dengan kultur teknis, biologi (agens hayati, pestisida nabati), atau dengan secara kimiawi (pestisida). Saat ini banyak usaha pengendalian diarahkan pada pengendalian secara biologi untuk meningkatkan kesehatan dan ketahanan tanaman terhadap penyakit yaitu antara lain dengan memanfaatkan mikroba tanah atau sekitar perakaran. Salah mikroba yang digunakan sebagai agens hayati adalah rhizobakteri Rhizobakteri adalah kelompok bakteri  rizosfer yang memiliki kemampuan mengkoloniasasi rizosfir secara agresif. Mikroba rhizobakteri dapat berperan sebagai agensia hayati (Biocontrol), penyedia nutrisi (biofertilization) dan merangsang pertumbuhan tanaman (Biostimulation). Pengujian rhizobakteri yang diisolasi dari perakaran seraiwangi dan lada diperoleh beberapa isolat yang mampu menghambat pertumbuhan jamur seraiwangi diatas 50%.  Bakhan penggunakan rhizobakteri terbentuk zona hambat yang buat mencapai 10-20 mm. ). Hal ini disebabkan bahwa rhizobakteri antagonis dapat mengeluarkan antibiotik berupa metabolit sekunder yang dapat menekan pertumbuhan patogen.  Isolat KB-9 menunjukkan penghambatan yang paling kuat diantara rhizobakteri antagonis lainnya, dan diidentifikasi sebagai Burkholderia sp. Rhizobakteri ini selain sebagai antagonis, juga diketahui berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman (PGPR )

Gambar 5. Penghambatan Pertumbuhan Jamur Curvularia sp oleh Rhizobakteri Antagonis sebagai Agen Hayati

Untuk mengendalikan penyakit dilapang rhizobakteri antagonis terpilih telah di kombinasikan dalam satu formula dengan bakteri pelarut phosfat (Pseudomonas sp) dan pengikat nitrogen (Azospirillum sp.). Bila dilakukan pada saat tanam formula rhizobakteri antagonis ini dapat dilakukan pada benih/bibit anakan yang akan ditanam  yaitu dengan cara merendam bagian perakaran seraiwangi dengan konsentrasi 5 ml formula/liter air. Penggunaan pada kebun yang yang telah terserang dilakukan dengan cara memanen daun seraiwangi, kemudian dibersihkan daun-daun yang terserang dari permukaan tanah disekitar kebun. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir atau meniadakan daun terserang dapat menjadi sumber inokulum (sumber infeksi) pada daun baru yang tumbuh. Setelah rumpun seraiwangi dipanen, dan dilakukan pembumbunan atau pemberian pupuk kandang, kemudian disemprot dengan larutan formula rhizobakteri antagonis setelah diencerkan 5 ml/liter air. 

Alternatif pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan pestisida nabati atau kimia. Pengujian secara in vitro  pestisida nabati  berbahan aktif cengkeh dan eucalyptus, masing-masing dapat menghambat 27,76% dan 39,36%. Sedangkan pestisida kimia berbahan aktif mankozeb dan benomil dapat menghambat 100% dan 41,18%. Jamur Curvularia sp., tidak menunjukkan pertumbuhan dengan pestisida berbahan aktif mankozeb  (Gambar 6). Hal ini menunjukkan bahwa pestisida berbahan aktif mankozeb, paling efektif kalau digunakan untuk mengendalikan penyakit ercak daun yang disebabkan oleh Curvularia sp.

Pengendalian bercak daun di lapang dengan pestisida kimia berbahan aktif mankozeb dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: Tanaman seraiwangi dipanen, kemudian dibersihkan daun-daun yang terserang dari permukaan tanah disekitar kebun. Daun-daun yang terserang dapat menjadi sumber inokulum (sumber infeksi) pada daun baru yang tumbuh. Setelah dipanen, dilakukan pembumbunan atau pemberian pupuk kandang tanaman seraiwangi dibiarkan tumbuh. Setelah tumbuh daun baru, dan kira-kira tanaman berumur 1-1,5 bulan dapat dilakukan penyemprotan sesuai dosia dalam kemasan pestisida berbahan aktif mankozeb.

Gambar 6. Penghambatan Pertumbuhan Jamur Curvularia sp. dengan menggunakan Pestisida Nabati dan Kimia

Penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur Curvularia  andropogonis  (WAKKER) BEIDJIN.  Penyakit ini dapat dikendalikan secara biologi dengan rhizobakteri antagonis, dan penggunaan pestisida kimia berbahan aktif mankozeb.

Disusun Oleh: DR. Ir. Sukamto, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

Related Words:

Seraiwangi, Tanaman Seraiwangi, Budidaya Seraiwangi, Tanaman Seraiwangi, Penyulingan Daun Seraiwangi, Minyak Atsiri Seraiwangi, Penyakit Bercak Daun Pada Seraiwangi, Bercak Daun pada Seraiwangi, Harga Minyak Seraiwangi, Penyakit Seraiwangi, Pengendalian Bercak Daun Pada Seraiwangi

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *