HARUM DAN PULENNYA PADI INPAGO UNSOED-1

Komoditas

Pangan terutama beras merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya merupakan hak asasi, tidak dapat ditunda, serta merupakan pilar utama dalam pembangunan nasional yang berperan dalam menjaga stabilitas ekonomi, sosial dan politik.

Selain sebagai bahan pangan pokok bagi lebih dari 90 persen rakyat Indonesia, pengusahaan tanaman padi telah menyediakan lapangan kerja untuk 39,68 juta orang atau 31,86%  dari angkatan kerja nasional di perdesaan, di antaranya sekitar 14,15 juta rumah tangga mengusahakan tanaman padi. Dapat dikatakan bahwa tanaman padi merupakan tanaman pangan yang sangat penting dalam pembangunan ketahanan pangan di Indonesia.

Keberhasilan peningkatan produksi padi yang telah mengantarkan Indonesia meraih swasembada beras pada tahun 1984 dan 2016, tidak dapat dipisahkan dari implementasi program intensifikasi yang didukung oleh penerapan teknologi revolusi hijau, kendatipun penerapan teknologi revolusi hijau masih memiliki kelemahan-kelemahan diantaranya adalah lebih bertumpu pada lahan sawah irigasi, diarahkan pada penggunaan input tinggi dan rendahnya kelenturan terhadap cekaman lingkungan. Sementara sumberdaya lahan untuk meningkatkan produksi padi mengalami alih fungsi ke non pertanian rata-rata sebesar 110.00 hektare setiap tahun melebihi kemampuan rata-rata cetak sawah baru dari tahun 2014-2016 yang hanya seluas 60.000 hektar setiap tahun.

Selain itu,  upaya-upaya dalam peningkatan produksi padi juga masih dihadapkan pada persoalan-persoalan seperti  terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global yang berdampak pada gagal tanam/panen, ketepatan dalam penyediaan sarana produksi pertanian, keterbatasan kemampuan SDM petani, akses penguatan modal usaha pertanian melalui lembaga keuangan formal (perbankan) serta praktek mafia dan kartel pangan. Meskipun demikian sesuai ketersediaan sumber daya lahan dan air, kemajuan teknologi, serta dukungan pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pertanian termasuk infrastruktur pengairan, produksi padi nasional masih bisa ditingkatkan. Untuk perluasan areal tanam dengan mencetak sawah baru, tersedia lahan seluas 13,90 juta ha (arable land)  dan 60% di antaranya dapat dikembangkan menjadi lahan sawah irigasi dan tadah hujan dan sisanya merupakan lahan rawa dan lahan pasang surut yang pada saat ini sedang dikembangkan tanaman padi, jagung, dan kedelai.

HARUM DAN PULENNYA PADI INPAGO UNSOED-1

Untuk meningkatkan produksi padi yang tidak hanya bertumpu pada padi sawah, perlu mengoptimalkan potensi lahan kering yang dipadu dengan pengusahaan padi gogo yang toleran terhadap serangan hama dan penyakit serta berbagai cekaman lingkungan, pulen dan wangi seperti padi INPAGO UNSOED-1.

Padi INPAGO UNSOED-1 merupakan salah satu varietas padi gogo aromatik yang diketemukan oleh Prof.Ir.Totok Agung DH, M.P., Ph.D dari Fakultas Pertanian UNSOED yang memiliki keunggulan diantaranya adalah produksi tinggi, toleran terhadap kekeringan, relatif tahan hama dan penyakit tertentu, aromanya wangi serta rasa nasi pulen. Sebagai padi gogo INPAGO UNSOED-1 juga bersifat amphibi, dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan sawah.

Peningkatan produksi dan produktivitas padi menggunakan varietas padi gogo INPAGO UNSOED-1 sudah barang tentu harus dibarengi dengan penerapan teknologi yang terintegrasi, seperti penggunaan metoda perekayasaan jarak tanam sistem jajar legowo (jarwo), tanam padi satu kali panen tiga kali (salibu) serta penggunaan pupuk dan pestisida hayati.  Dari uji coba di berbagai daerah dengan luasan lahan berbeda di Banyumas, Purworejo, Sragen dan Ternate dihasilkan produktivitas berkisar antara 8,5-9,5 ton/hektare GKP. Demikian pula uji coba yang dilakukan oleh komunitas PADIKU di Bantul dan Sleman, di DIY pada lahan sawah seluas 10 hektar dengan rakitan teknologi yang direkomendasikan terbukti telah menghasilkan produktivitas rata-rata 7,6 ton/hektare GKP. Dengan produksi yang relatif tinggi dan rasa nasi pulen serta aroma yang wangi, kini padi gogo INPAGO UNSOED-1 mulai digemari oleh petani dan konsumen. Pada kawasan BUMR Pangan di Sukabumi, sekitar 75 orang petani dengan luasan 66,2 hektar sudah menggunakan padi gogo INPAGO UNSOED-1 dengan hasil beras premium yang dikemas dengan merek dagang Caping Gunung.

Dengan potensi lahan kering yang demikian besar di Indonesia sekitar 52,5 juta hektare yang tersebar di Pulau Jawa Bali (7,1 juta hektare), Sumatera (14,8 juta hektare), Kalimantan (7,4 juta hektare), Sulawesi (5,1 juta hektare), Maluku dan Nusa Tenggara (6,2 juta hektare) dan Papua (11,8 juta hektare), sangat memungkinkan padi gogo INPAGO UNSOED-1 dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia dengan penyediaan benih dan sarana produksi lainnya yang memadai serta dukungan kebijakan dari pemerintah.

HARUM DAN PULENNYA PADI INPAGO UNSOED-1

Ditulis Oleh:
Asikin Chalifah – Alumnus Faperta UNSOED
Mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY, Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI) DIY, Wakil Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (KP3K) DIY, Ketua Dewan Pakar Persatuan Sarjana Pertanian (PISPI) DIY.
**********

Related:
Padi Inpago 01, PADI INPAGO UNSOED-1, Beras Pulen, Beras Pulen dan Harum, Produksi Padi di Indonesia, BUMR Pangan, Beras Caping Gunung, Varietas Padi Inpago UNSOED-1, Beras Premium, Varietas Padi Gogo

Bagikan :

8 thoughts on “HARUM DAN PULENNYA PADI INPAGO UNSOED-1

    1. Benih INPAGO UNSOED-1 BERSERTIFIKAT dan juga berasnya saat ini bisa dibeli salah satunya di Komunitas PADIKU, bisa dihubungi Mas Wawan dengan No.HP/WA : 082325183220.Saat ini tersedia benih IU-1 sebanyak 5,3 ton dan berasnya sekitar 1 ton, nuwun.

    1. Benih INPAGO UNSOED-1 BERSERTIFIKAT dan juga berasnya saat ini bisa dibeli salah satunya di Komunitas PADIKU, bisa dihubungi Mas Wawan dengan No.HP/WA : 082325183220.Saat ini tersedia benih IU-1 sebanyak 5,3 ton dan berasnya sekitar 1 ton, nuwun.
      Padi IU-1 tumbuh d berkembang baik di lahan kering, tetapi bersifat amfibi juga, bisa tumbuh dan berkembang baik pada lahan irigasi, nuwun.

    1. Sebelum bicara soal pemasaran, sebaiknya beras IU-1 sebaiknya menempuh dulu tahapan untuk menghasilkan beras giling putih sebagaimana ketentuan dalam Permentan 31/2017 tentang Kelas Mutu Beras, nuwun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *