MENUMBUHKAN PETANI BARU MELALUI PENDIDIKAN VOKASIONAL

Komoditas

Sektor pangan hingga saat ini masih memegang peran penting dalam pembangunan nasional, paling tidak dalam penyediaan bahan pangan, peningkatan pendapatan petani, pengurangan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara melalui ekspor. Penyediaan pangan terutama pangan strategis dalam jumlah yang cukup, aman  dan harga terjangkau tetap menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Dalam kegiatan REMBUG NASIONAL yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini telah menempatkan salah satu bidang bahasannya adalah menyangkut persoalan kedaulatan dan keamanan pangan.

Salah satu arah dalam pembangunan sektor pangan adalah terwujudnya swasembada dan swasembada pangan berkelanjutan melalui peningkatan produksi, pengurangan konsumsi (beras) dan percepatan penganekaragaman pangan berbasis potensi sumberdaya pangan lokal  menuju tercapainya kemandirian dan kedaulatan pangan. Untuk mewujudkan swasembada dan swasembada pangan berkelanjutan pemerintah masih    menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan, salah satunya adalah terkait dengan keterbatasan kemampuan SDM petani, termasuk berkurangnya jumlah rumah tangga petani secara drastis setiap tahun.

Hasil Sensus Pertanian yang dilakukan oleh BPS pada tahun 2013 memperlihatkan bahwa selama kurun waktu 2003-2013 telah terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani  di Indonesia sebesar 16,23 persen atau sekitar 5,1 juta rumah tangga petani. Berdasarkan kelompok umur diketahui jumlah rumah tangga petani yang berusia produktif (dibawah 45 tahun)  relatip lebih kecil yakni 39,21 persen jika dibandingkan dengan yang berusia di atas 45 tahun yakni sebesar 60,79 persen dari sebanyak 26.135.469 rumah tangga petani. Perbandingan antara jumlah pemuda tani dengan petani yang telah berusia lanjut dapat digunakan menjadi titik tolak untuk mendorong percepatan penumbuhan petani baru di perdesaan. Dari tingkat pendidikan tercatat sebanyak 97,36 persen petani di Indonesia berpendidikan dibawah atau tamat  SMA, selebihnya sebesar 2,64 persen berpendidikan Diploma, Sarjana (S1), Magister (S2) dan Doktor (S3). Keterbatasan kemampuan SDM petani sejauh ini telah berdampak pada kelemahan petani dalam mengakses hasil-hasil pembangunan pertanian seperti ketersediaan sarana produksi pertanian, research and development dari lembaga penelitian pertanian serta penguatan modal usaha tani melalui lembaga keuangan formal (perbankan).

MENUMBUHKAN PETANI BARU

Salah satu upaya untuk mengatasi berkurangnya jumlah rumah tangga petani dan keterbatasan kemampuan petani di Indonesia adalah dengan menumbuhkan minat berusaha tani ataupun melakukan usaha di sektor pertanian pada generasi muda di perdesaan melalui pendidikan vokasional. Pendidikan vokasional diartikan sebagai sistem pendidikan tinggi yang menekankan pada penguasaan keahlian/keterampilan dibidang tertentu yang berselaraskan dengan kebutuhan pasar, lapangan pekerjaan atau dunia usaha dan industri. Tujuan pendidikan vokasional sesuai regulasi yang ada sangat berbeda dengan sistem pendidikan akademik dan profesional/spesialis, termasuk dalam perolehan gelar pendidikannya.  Berbeda dengan di Indonesia, di negara-negara maju seperti Jerman, Australia dan Cina, jumlah kelembagaan yang melaksanakan pendidikan vokasional umumnya lebih banyak ketimbang kelembagaan yang melaksanakan pendidikan akademik maupun profesional/spesialis. Dengan perkataan lain pendidikan vokasional memegang peran penting dalam menghasilkan tenaga kerja ahli/terampil yang siap memasuki lapangan pekerjaan dan sekaligus mendukung kemajuan suatu bangsa dan negara.

Sesungguhnya pendidikan vokasional dibidang pertanian selama ini sudah dilakukan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia terutama yang memiliki fakultas dalam rumpun pertanian. Dengan demikian pendidikan vokasional dibidang pertanian bagi generasi muda di perdesaan sangat dimungkinkan dilakukan untuk menjawab berkurangnya rumah tangga petani dan keterbatasan kemampuan petani di Indonesia. Akan tetapi tentunya diperlukan  upaya sungguh-sungguh terutama yang menjadi prioritas adalah untuk meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan dan non kependidian, penguatan terhadap sarana dan prasarana pendidikan dan yang terpenting adalah perbaikan terhadap kurikulum pendidikan yang lebih berorientasi pada kebutuhan pasar, lapangan pekerjaan  atau memiliki link and match dengan dunia usaha dan industri bidang pertanian.

Kementerian Pertanian RI dan Kementerian/Lembaga (K/L) lainnya saat ini sesungguhnya sudah memiliki kelembagaan pendidikan dan pelatihan kedinasan dan non kedinasan yang dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk dapat menyelenggarakan pendidikan vokasional bidang pertanian bagi generasi muda di perdesaan. Untuk itu diperlukan dukungan, komitmen dan sinergi yang  kuat dari masing-masing Kementerian/Lembaga (K/L) terkait sehingga penciptaan petani baru yang berasal dari generasi muda di perdesaan segera dapat diwujudkan.

**********

Jogjakarta, 17 Desember 2017
Disusun Oleh: Ir. Asikin Chalifah
Mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY, Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI) DIY, Wakil Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (KP3K) DIY, Ketua Dewan Pakar Persatuan Sarjana Pertanian (PISPI) DIY.

Bagikan :

2 thoughts on “MENUMBUHKAN PETANI BARU MELALUI PENDIDIKAN VOKASIONAL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *